Berat Badan Mudah Naik Dan Susah Turun: Memahami Penyebab Kompleks Di Balik Angka Timbangan

Penulis

0 Comment

Link
Penyebab Berat Badan Susah Turun (pexels)

Berat Badan Gampang Naik dan Susah Turun, Ini Penyebabnya

Penyebab Berat Badan Susah Turun (pexels)
Penyebab Berat Badan Susah Turun (pexels)

 

Banyak orang menganggap diet atau upaya menurunkan berat badan sebagai hal sederhana, yakni dengan mengurangi asupan makanan dan memperbanyak aktivitas fisik. Namun, keinginan dan rencana seseorang tidak selalu menjelaskan seluruh persoalan berat badan.

Banyak orang yang sudah berusaha secara konsisten, tetapi tetap kesulitan untuk mencapai berat badan ideal atau mempertahankannya. Ternyata, ada berbagai faktor kompleks yang bekerja di balik perjuangan mengelola berat badan.

Melansir BBC pada Senin (28/9/2026), sejumlah pakar menilai ada berbagai faktor yang membuat seseorang lebih mudah mengalami kenaikan berat badan atau kesulitan mempertahankan berat badan setelah berhasil menurunkannya. Sebagian faktor tersebut bahkan masih belum sepenuhnya dipahami.

Bini Suresh, pakar diet yang menangani pasien dengan kelebihan berat badan dan obesitas selama sekitar 20 tahun, mengatakan bahwa ia kerap menemukan pasien yang sudah berusaha secara konsisten, tetapi tetap kesulitan menurunkan berat badan. Sejalan dengan itu, Direktur Medis WeightWatchers, Dr Kim Boyd, menilai istilah seperti “kemauan” atau self-control tidak cukup untuk menjelaskan persoalan berat badan.

 

Peran Genetik dalam Mengatur Berat Badan

Ilustrasi Genetik (pexels)
Ilustrasi Genetik (pexels)

Ahli endokrinologi dari University of Cambridge, Inggris, Professor Sadaf Farooqi, menjelaskan bahwa gen dapat memengaruhi jalur di otak yang mengatur rasa lapar dan kenyang sebagai respons terhadap sinyal dari lambung. Menurutnya, variasi tertentu pada gen dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lapar dan lebih sulit merasa kenyang setelah makan.

Salah satu gen yang mendapat perhatian adalah MC4R. Mutasi pada gen tersebut diperkirakan dimiliki sekitar seperlima populasi dunia dan dapat memengaruhi rasa kenyang serta kecenderungan seseorang untuk makan lebih banyak.

Gen juga dapat memengaruhi metabolisme, yakni bagaimana tubuh menggunakan atau membakar energi. Farooqi menjelaskan, akibat perbedaan genetik, seseorang dapat menyimpan lebih banyak lemak setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sama dengan orang lain atau membakar lebih sedikit kalori saat berolahraga.

Ia memperkirakan terdapat ribuan gen yang dapat memengaruhi berat badan, namun baru sekitar 30 hingga 40 gen yang telah dipahami secara lebih mendalam. Memahami dasar genetik ini penting untuk melihat bahwa perjuangan berat badan bukan semata-mata kelemahan individu.

 

Tubuh Memberikan Respons Saat Berat Badan Berubah

Tubuh memberikan respon saat ada perubahan pada berat badan (pexels)
Tubuh memberikan respon saat ada perubahan pada berat badan (pexels)

Faktor biologis tidak berhenti pada genetik. Ahli bedah bariatrik sekaligus penulis buku Why We Eat Too Much, Andrew Jenkinson, menjelaskan teori set weight point.

Teori ini menyebutkan bahwa otak memiliki kisaran berat badan yang berusaha dipertahankan oleh tubuh. Faktor genetik, lingkungan makanan, stres, dan pola tidur turut memengaruhi kisaran tersebut.

Ketika berat badan turun di bawah kisaran tersebut, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar dan memperlambat metabolisme. Jenkinson mengibaratkan mekanisme ini seperti termostat yang berusaha mengembalikan suhu ke tingkat yang sesuai bagi tubuh.

Mekanisme ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa berat badan sebagian orang kembali naik setelah menjalani diet ketat atau mengalami penurunan berat badan dalam jumlah besar. Ketika seseorang dengan berat badan tertentu menurunkan berat badan secara drastis, tubuh dapat merespons seolah-olah sedang mengalami kelaparan.

Rasa lapar yang sangat kuat kemudian dapat mendorong seseorang untuk mencari makanan dan membuat proses mempertahankan berat badan menjadi lebih sulit. Lingkungan sekitar juga memperburuk kondisi ini karena semakin banyak menyediakan makanan berkalori tinggi dan makanan ultra-proses. Pemasaran makanan cepat saji dan minuman manis yang semakin gencar, ukuran porsi yang semakin besar, serta minimnya kesempatan untuk beraktivitas fisik turut memperburuk kondisi tersebut.

Farooqi menyebut kondisi ini sebagai salah satu alasan peningkatan berat badan terjadi pada populasi, terutama pada orang yang memiliki kecenderungan genetik lebih besar untuk mengalami kenaikan berat badan. Sementara itu, Direktur Kesehatan Masyarakat Newcastle City Council, Alice Wiseman, menyoroti banyaknya pilihan makanan yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, beragam pilihan tersebut membuat seseorang semakin sulit menjaga berat badan.

Kemauan Bukan Satu-satunya Faktor Penentu Berat Badan
Kemauan bukan satu-satunya faktor utama (pexels)
Kemauan bukan satu-satunya faktor utama (pexels)

 

Para pakar memiliki pandangan berbeda mengenai seberapa besar peran kemauan dalam pengelolaan berat badan. Psikolog Eleanor Bryant menjelaskan bahwa suasana hati, rasa lelah, dan rasa lapar dapat memengaruhi tingkat kemauan seseorang.

Ia membedakan kemauan menjadi pendekatan yang kaku dan fleksibel.

Pendekatan kaku dapat membuat seseorang menganggap satu kali makan makanan “melanggar aturan” sebagai kegagalan total.

Sebaliknya, pendekatan fleksibel membantu seseorang menerima pilihan tersebut dan kembali menjalankan pola makan sesuai rencana.

 Menurut Bryant, pendekatan yang fleksibel lebih berhasil dalam mengelola perilaku makan.

Pada akhirnya, berat badan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, bukan sekadar persoalan “kemauan ingin kurus”. Memahami peran biologis, lingkungan, serta faktor psikologis dapat membantu melihat persoalan berat badan secara lebih menyeluruh, tanpa menyederhanakannya sebagai masalah kurang disiplin.

Mengelola berat badan memerlukan pemahaman yang lebih dalam dan pendekatan yang holistik.

Share:

Related Post

Tinggalkan komentar