
Hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya lemak di hati bisa menjadi kabar mengejutkan, terutama jika orang yang mengalaminya masih berada di usia belasan atau 20-an tahun. Namun, anggapan bahwa perlemakan hati hanya menyerang lansia atau individu yang gemar mengonsumsi alkohol adalah kekeliruan.
Fatty liver, atau yang secara medis dikenal sebagai penumpukan lemak di hati, adalah kondisi yang dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia. Identifikasi kondisi ini membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai faktor yang berkontribusi.
Sejak 2023, organisasi hepatologi global memperbarui nomenklatur penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD) menjadi steatotic liver disease (SLD). Organisasi tersebut juga memperkenalkan klasifikasi berdasarkan penyebabnya. Salah satunya adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD).
MASLD merujuk pada penumpukan lemak di hati yang terjadi bersamaan dengan setidaknya satu faktor risiko kardiometabolik. Perubahan istilah ini menekankan pentingnya peran disfungsi metabolik sebagai penyebab utama, termasuk pada populasi usia muda.
Gangguan Metabolik: Biang Keladi Utama Fatty Liver di Usia Muda

Pada individu yang berusia muda, salah satu pemicu paling signifikan dari fatty liver adalah gangguan metabolik.
Kondisi ini mencakup berbagai masalah kesehatan. Beberapa di antaranya adalah kelebihan berat badan, obesitas, resistensi insulin, dan diabetes tipe 2. Hipertensi serta kadar trigliserida atau kolesterol yang tidak sehat juga termasuk di dalamnya.
Kemunculan beberapa faktor tersebut secara bersamaan dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak di hati. Resistensi insulin, misalnya, terjadi ketika sel tubuh tidak merespons insulin secara efektif. Kondisi ini dapat mengganggu pengaturan gula darah dan metabolisme lemak.
Akibatnya, hati dapat memproduksi atau menerima lebih banyak lemak daripada yang mampu diproses tubuh. Sebuah tinjauan sistematis pada 2026 juga mengonfirmasi temuan tersebut. Obesitas, resistensi insulin, dan gangguan profil lipid menjadi faktor yang paling konsisten terkait MASLD pada dewasa muda.
Selain faktor metabolik, pola makan dan aktivitas fisik juga berperan. Pola makan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko fatty liver. Risiko tersebut juga dapat bertambah akibat kurangnya aktivitas fisik dan gaya hidup sedentari dalam jangka panjang.
Meski demikian, tingkat bukti mengenai hubungan tersebut dapat bervariasi. Korelasi dalam sebuah studi juga tidak selalu menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung pada setiap individu.
Pola makan tinggi minuman dan makanan manis menjadi salah satu faktor penting lainnya. Asupan energi yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko. Kombinasi tersebut menjadi lebih berisiko ketika seseorang kurang aktif bergerak atau sudah memiliki masalah metabolik.
Konsumsi fruktosa dalam jumlah tinggi pada anak-anak juga diduga berkontribusi terhadap perkembangan fatty liver. Namun, kondisi ini tidak langsung muncul hanya karena seseorang mengonsumsi minuman manis sekali.
Risiko fatty liver terbentuk melalui interaksi berbagai faktor. Proses tersebut biasanya berlangsung dalam jangka waktu tertentu.
Berat Badan Normal Bukan Jaminan Bebas Risiko

Menariknya, fatty liver tidak secara eksklusif menyerang individu yang mengalami kelebihan berat badan. Seseorang dengan berat badan ideal pun tetap berisiko mengalami penumpukan lemak di hati.
Pada sebagian individu, lemak dapat terakumulasi di sekitar organ-organ vital lainnya, atau kondisi seperti resistensi insulin, kerentanan genetik, dan kelainan metabolik lain mungkin menjadi penyebabnya. Faktor genetik memainkan peran penting dalam cara tubuh menyimpan dan memetabolisme lemak.
Riwayat keluarga yang memiliki kondisi serupa dapat mengindikasikan adanya kecenderungan genetik untuk mengembangkan perlemakan hati, terutama jika kondisi tersebut muncul pada usia yang lebih muda. Meskipun demikian, adanya faktor genetik tidak secara otomatis memastikan seseorang akan mengembangkan penyakit ini.
Melampaui Alkohol: Penyebab Lain yang Perlu Diwaspadai

Alkohol memang menjadi salah satu penyebab utama penyakit hati berlemak. Namun, seseorang juga dapat mengalami risiko lebih tinggi ketika memiliki faktor metabolik dan mengonsumsi alkohol dalam jumlah berisiko. Dalam kondisi tersebut, dokter dapat mempertimbangkan diagnosis gabungan yang disebut metabolic and alcohol-related liver disease (MetALD).
Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap kondisi fatty liver tidak hanya berfokus pada hasil pemindaian atau berat badan, tetapi juga mencakup analisis mendalam mengenai pola konsumsi alkohol. Selain alkohol, ada pula penyebab yang lebih jarang terjadi.
Beberapa jenis obat, seperti kortikosteroid, amiodarone, tamoxifen, dan methotrexate, dapat memicu penumpukan lemak di hati. Pada anak-anak, beberapa faktor lain juga perlu mendapat perhatian. Faktor tersebut meliputi malnutrisi, penurunan berat badan secara drastis, penyakit celiac, serta kelainan genetik tertentu seperti penyakit Wilson.
Jangan menghentikan obat yang dokter resepkan secara mandiri karena khawatir terhadap risiko fatty liver. Tindakan tersebut justru dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Jika pemeriksaan menunjukkan adanya penumpukan lemak, dokter akan melakukan evaluasi secara menyeluruh.
Dokter akan meninjau obat-obatan yang pasien konsumsi dan kondisi metaboliknya. Dokter juga akan menanyakan riwayat konsumsi alkohol dan riwayat keluarga. Selain itu, dokter akan mencari kemungkinan penyebab lainnya.
Perlemakan hati sering tidak menimbulkan gejala yang jelas, terutama pada anak-anak. Karena itu, dokter sering menemukan kondisi ini secara tidak sengaja saat melakukan pemeriksaan untuk masalah kesehatan lainnya.

Anak dengan fatty liver mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali atau hanya mengalami gejala yang sangat ringan.
Penting untuk tidak langsung membuat kesimpulan terburu-buru mengenai penyebab fatty liver, seperti terlalu banyak makan, minum alkohol, atau obesitas, hanya dari hasil pemeriksaan awal. Diagnosis dokter sangat krusial untuk membedakan antara MASLD dengan penyakit hati yang disebabkan oleh alkohol, obat-obatan, atau kondisi medis lainnya.
Pemahaman yang akurat mengenai penyebabnya sangat penting karena dapat mempengaruhi strategi penanganan dan prognosis pasien.





Tinggalkan komentar