
Katarak sering dikaitkan dengan proses penuaan. Kondisi ini membuat lensa mata menjadi keruh. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Katarak juga dapat menyerang bayi dan anak-anak. Kondisi ini dapat menurunkan kualitas penglihatan sejak usia dini.
Karena itu, orang tua perlu mengenali gejala dan faktor risikonya. Deteksi dini dapat membantu menjaga perkembangan penglihatan anak.
Katarak yang muncul sejak lahir disebut katarak kongenital. Kondisi ini memang relatif jarang terjadi. Namun, katarak kongenital membutuhkan penanganan medis yang tepat.
Dokter perlu segera memeriksa kondisi mata anak. Penanganan yang tepat dapat membantu menjaga perkembangan visual. Sebaliknya, katarak yang tidak tertangani dapat mengganggu proses belajar dan interaksi anak.
Penyebab Katarak Kongenital pada Anak

Menurut Dokter Spesialis Mata Milzan Murtadha, katarak pada anak umumnya sudah ada sejak lahir. Dua faktor utama dapat memicu kondisi tersebut.
Faktor pertama adalah genetik atau keturunan. Faktor kedua berkaitan dengan infeksi yang dialami ibu selama kehamilan.
“Untuk katarak pada anak itu biasanya bawaan dari lahir. Memang bisa dari faktor genetik atau faktor infeksi kehamilan pada ibu hamil,” jelas Dr. Milzan dalam sebuah acara media briefing.
Infeksi TORCH pada Ibu Hamil

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah infeksi TORCH. Istilah ini mencakup Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes.
Infeksi tersebut dapat meningkatkan risiko bayi mengalami katarak. Namun, angka kasus yang berkaitan dengan infeksi TORCH di Indonesia masih tergolong rendah.
Dr. Milzan menyebut angkanya masih berada di bawah dua persen. “Untuk infeksi pada ibu hamil itu biasanya infeksi TORCH, toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, herpes. Jadi sudah ada sepaket. Sementara sih di Indonesia masih dua persen ke bawah, jadi masih agak jarang,” tambahnya.
Selain infeksi, faktor keturunan juga dapat berperan. Risiko katarak dapat berpindah dari orang tua kepada anak. Namun, kondisi tersebut tidak selalu terjadi.
Katarak juga dapat muncul secara sporadis. Artinya, anak dapat mengalami katarak meskipun tidak memiliki riwayat keluarga dengan kondisi tersebut.
“Dikatakan dari orang tua ke anak itu 10 persen risiko, tapi ada juga yang orang tuanya normal dua-duanya, tiba-tiba anaknya katarak. Itu sporadis,” ungkap Dr. Milzan.
Penanganan Katarak pada Anak

Operasi menjadi salah satu penanganan utama untuk katarak pada anak. Prosedur ini bertujuan mengangkat lensa mata yang mengalami kekeruhan.
Dokter akan menyesuaikan teknik operasi dengan kondisi dan ukuran mata anak. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah fakoemulsifikasi atau phacoemulsification.
“Tetap penanganannya adalah operasi katarak. Tergantung dari besar matanya biasanya. Cuma tetap kita ada pelayanan untuk operasi katarak pada anak. Biasanya sih tetap yang fakoemulsifikasi, tapi ada modifikasi karena untuk anak,” ujar Dr. Milzan.
Operasi katarak pada anak memiliki perbedaan dengan prosedur pada orang dewasa. Salah satu perbedaannya terletak pada metode pembiusan.
Dokter dapat melakukan operasi katarak pada orang dewasa dengan bius lokal. Sementara itu, anak biasanya memerlukan bius umum atau general anesthesia.
Pembiusan umum membantu anak tetap tenang selama operasi. Cara ini juga membantu dokter menjalankan prosedur dengan aman dan sesuai kebutuhan pasien.
Pemantauan Penglihatan Setelah Operasi Katarak

Operasi bukan menjadi akhir dari perawatan katarak pada anak. Setelah dokter mengangkat lensa yang keruh, dokter dapat memasang lensa tanam atau intraocular lens (IOL).
Anak tetap membutuhkan pemeriksaan mata secara rutin setelah operasi. Pertumbuhan anak dapat mengubah kondisi mata dan kebutuhan koreksi penglihatannya.
Dr. Milzan menjelaskan bahwa pemasangan lensa tidak selalu membuat kondisi penglihatan anak tetap sama.
“Kataraknya sudah dibersihkan, kita tanam lensa sudah, cuma sekali saja. Apakah nanti setelah operasi katarak dia bertahan sama lensa itu saja? Belum tentu.”
Perubahan refraksi dapat terjadi seiring pertumbuhan anak. Misalnya, ukuran minus atau silinder dapat berubah.
Kondisi tersebut mungkin membuat anak membutuhkan kacamata. Dokter juga dapat memberikan alat bantu penglihatan lain sesuai kebutuhan.
Namun, perubahan ukuran minus atau silinder tidak selalu berarti anak harus menjalani operasi katarak kembali.
“Karena anak terus bertumbuh dan berkembang, mungkin nantinya dia minusnya nambah silinder, suka berubah sesuai umur. Tapi untuk operasi kataraknya, tetap satu kali,” pungkas Dr. Milzan.
Orang Tua Perlu Memantau Kesehatan Mata Anak
Katarak tidak hanya berkaitan dengan usia lanjut. Bayi dan anak-anak juga dapat mengalami kondisi tersebut.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan pada penglihatan anak. Pemeriksaan mata juga penting, terutama jika terdapat faktor risiko atau keluhan penglihatan.
Deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu menjaga perkembangan penglihatan anak. Selain itu, pemeriksaan rutin setelah operasi juga berperan penting.
Dengan pemantauan yang konsisten, orang tua dapat membantu menjaga kualitas penglihatan anak dalam jangka panjang.





Tinggalkan komentar